Aku gundah...
Lagi-lagi..
Memikirkan suatu hal yang tak pasti
Meraba-raba, mencari jawaban dari rasa ini...
Ingin aku berteriak,
Meneriakkan padanya tentang kegelisahan yang memporakporandakan hati..
Tahukah dia?
Betapa ingin aku sampaikan kejujuran..
Karena aku benci kemunafikan...
Welcome.
Welcome.
Senin, 26 Juli 2010
BERSIKAP SKEPTIS TERHADAP MEDIA
Media sekarang ini sudah menjamur, mulai media cetak sampai elektronik. Media dapat membantu kita mendapat rujukan untuk membuat tugas atau ketika sedang membutuhkan sesuatu. Media membangun sebuah definisi yang kemudian menjadi tolak ukur masyarakat. Contohnya tentang definisi cantik. Media mengartikan bahwa perempuan cantik itu adalah perempuan yang tubuhnya langsing, berkulit putih, serta berambut panjang dan lurus. Akhirnya secara tidak sadar masyarakat mempercayai definisi tentang cantik tersebut. Mereka pun berupaya untuk mengubah penampilan sedemikian rupa untuk membentuk kecantikan fisik ala media. Padahal, cantik itu tidak melulu tentang fisik. Banyak hal yang membuat perempuan terlihat cantik, salah satunya dengan belajar dan memperbaiki akhlak. Selain itu, gaya berpakaian masyarakat juga seringkali mengacu pada apa yang ditampilkan oleh media. Setiap yang ditampilkan media akhirnya menjadi acuan masyarakat dalam berpakaian, memilih produk, gaya bicara, dan memilih tempat bersantai. Itu terjadi karena pola pikiran kita sudah berhasil dibentuk oleh ‘kebenaran’ yang dibuat media.
Beberapa media memang telah membantu kita dalam menambah wawasan dan pengetahuan. Berita-berita yang ditayangkan di televisi juga membuat kita mengerti banyak hal aktual yang terjadi di seluruh dunia. Kemajuan media internet juga membuat kita tidak ketinggalan jaman dan mengetahui persoalan sosial yang sedang populer di masyarakat. Namun sisi negatifnya, banyak media sering menayangkan acara-acara yang kurang bermutu menurut saya. Contohnya adalah acara reality show yang memperlihatkan privasi dan aib orang lain. Setiap adegan yang terlihat dalam acara tersebut menandakan acara itu hanya fiktif belaka. Hal ini dibuktikan ketika pembawa acara mengetuk pintu, baru tiga kali ketukan pintu langsung dibuka oleh si target yang sudah rapi dan bermake up serta langsung menghadap kamera. Bukankah itu tidak masuk akal?
Dengan semua problema yang terjadi dalam perkembangan media saat ini, kita seharusnya lebih kritis dan bersikap skeptis terhadap apa yang ditayangkan dan diberitakan oleh media, baik media cetak maupun elektronik. Kita juga harus mempunyai prinsip sendiri tentang sesuatu hal agar tidak mudah terpengaruh dengan apa yang dipropagandakan oleh media. Atau kita juga bisa memperbaiki keadaan media saat ini dengan membuat media sendiri yang kreatif dan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat. Begitu pula dengan media. Pelaku media seharusnya dapat lebih bertanggung jawab dengan apa yang ditayangkannya dengan membuat program yang lebih berkualitas. Mengingat media saat ini telah menjadi tolak ukur masyarakat pada hampir di segala bidang kehidupan.
FASE PERUBAHAN KEHIDUPAN
Kehidupan baru saya telah dimulai. Di sini, di universitas terbaik bangsa, saya diberi kesempatan untuk meraih mimpi. Tidak ada kata lain selain syukur atas anugerah terbesar dari-Nya ini. Perjuangan, kerja keras siang dan malam, serta doa yang tidak pernah berhenti saya panjatkan akhirnya tidak sia-sia. Namun ternyata, anugerah itu adalah awal dari perjuangan saya yang sebenarnya. Dan semua itu tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saya harus rela meninggalkan orang tua hebat saya, keluarga besar saya, sahabat-sahabat luar biasa saya, dan kota kecil saya yang penuh kedamaian.
Saya tidak menyadari bahwa segalanya begitu cepat terjadi. Meninggalkan setapak demi setapak jalan yang dulu saya lewati begitu indahnya. Perubahan fase ini begitu berat. Sesuatu yang berharga harus berani saya pertaruhkan sedikit demi sedikit. Hidup ternyata cepat. Tidak peduli siapa meninggalkan siapa, apa akibatnya, dan bagaimana memulihkannya. Kenyataan berat ini memang harus saya pikul sendiri karena orang lain akan sibuk sendiri dengan pemikiran-pemikirannya yang tidak kalah berat dari masalah sepele ini. Tangga pijakan ini begitu jauh berselisih dengan anak tangga kehidupan saya sebelumnya sehingga saya harus tertatih-tatih berjalan melewatinya. Namun, di luar semua itu ada Tangan Hebat milik-Nya yang tidak tertandingi siapapun. Dia adalah satu-satunya penolong yang membantu saya melangkah karena Dia lah yang menentukan semua ini untuk saya . Memilihkan yang terbaik untuk masa depan saya.
Tidak bisa saya pungkiri betapa saya akan merindukan masa-masa indah bersama orang-orang yang saya cintai di kota asal saya, Kediri. Tawa lepas, tawa kemenangan, tangis keegoisan, serta tangis kasih sayang pernah saya jalani bersama mereka. Saya akan merindukan semua itu. Semoga sosok mereka dapat saya temukan kembali di sini. Ada satu nama yang tidak pernah saya sangka akan membayangi hari-hari saya saat ini. Tidak dapat saya ingat lagi, mengapa dan bagaimana saya bisa menyayanginya, dan ketika saya mulai melangkah bersamanya, tidak pernah saya bayangkan akan secepat ini meninggalkannya. Sekarang tidak akan dapat saya pandangi wajahnya lagi setiap hari, tidak bisa saya ungkapkan lagi perasaan saya setiap waktu. Namun, saya yakin ini yang terbaik. Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik, hanya saja saya membutuhkan banyak waktu untuk menerima kenyataan ini. Saya adalah mahkluk lemah dan tidak berdaya yang hanya dapat berjuang untuk ikhlas akan setiap ketetapan-Nya.
Di Universitas Indonesia ini, terdapat begitu banyak orang-orang hebat, berprestasi, dan berbakat yang terkumpul dari seluruh negeri. Semua itu membuat saya sadar bahwa selama ini saya begitu sombong karena mengira saya sudah meraih banyak hal. Ternyata banyak sekali yang belum dapat saya raih. Oleh karena itu, saya harus berjuang lebih keras lagi untuk meraih mimpi dan bertahan melewati fase kehidupan baru ini demi membahagiakan orang tua saya, membanggakan teman-teman saya, dan membangun Kota Kediri tercinta. Meskipun berat, tapi saya yakin mimpi-mimpi itu akan terwujud karena Tuhan yang Maha Melihat akan senantiasa mengabulkan doa hamba-Nya yang berusaha.
Saya tidak menyadari bahwa segalanya begitu cepat terjadi. Meninggalkan setapak demi setapak jalan yang dulu saya lewati begitu indahnya. Perubahan fase ini begitu berat. Sesuatu yang berharga harus berani saya pertaruhkan sedikit demi sedikit. Hidup ternyata cepat. Tidak peduli siapa meninggalkan siapa, apa akibatnya, dan bagaimana memulihkannya. Kenyataan berat ini memang harus saya pikul sendiri karena orang lain akan sibuk sendiri dengan pemikiran-pemikirannya yang tidak kalah berat dari masalah sepele ini. Tangga pijakan ini begitu jauh berselisih dengan anak tangga kehidupan saya sebelumnya sehingga saya harus tertatih-tatih berjalan melewatinya. Namun, di luar semua itu ada Tangan Hebat milik-Nya yang tidak tertandingi siapapun. Dia adalah satu-satunya penolong yang membantu saya melangkah karena Dia lah yang menentukan semua ini untuk saya . Memilihkan yang terbaik untuk masa depan saya.
Tidak bisa saya pungkiri betapa saya akan merindukan masa-masa indah bersama orang-orang yang saya cintai di kota asal saya, Kediri. Tawa lepas, tawa kemenangan, tangis keegoisan, serta tangis kasih sayang pernah saya jalani bersama mereka. Saya akan merindukan semua itu. Semoga sosok mereka dapat saya temukan kembali di sini. Ada satu nama yang tidak pernah saya sangka akan membayangi hari-hari saya saat ini. Tidak dapat saya ingat lagi, mengapa dan bagaimana saya bisa menyayanginya, dan ketika saya mulai melangkah bersamanya, tidak pernah saya bayangkan akan secepat ini meninggalkannya. Sekarang tidak akan dapat saya pandangi wajahnya lagi setiap hari, tidak bisa saya ungkapkan lagi perasaan saya setiap waktu. Namun, saya yakin ini yang terbaik. Tuhan memang selalu memberikan yang terbaik, hanya saja saya membutuhkan banyak waktu untuk menerima kenyataan ini. Saya adalah mahkluk lemah dan tidak berdaya yang hanya dapat berjuang untuk ikhlas akan setiap ketetapan-Nya.
Di Universitas Indonesia ini, terdapat begitu banyak orang-orang hebat, berprestasi, dan berbakat yang terkumpul dari seluruh negeri. Semua itu membuat saya sadar bahwa selama ini saya begitu sombong karena mengira saya sudah meraih banyak hal. Ternyata banyak sekali yang belum dapat saya raih. Oleh karena itu, saya harus berjuang lebih keras lagi untuk meraih mimpi dan bertahan melewati fase kehidupan baru ini demi membahagiakan orang tua saya, membanggakan teman-teman saya, dan membangun Kota Kediri tercinta. Meskipun berat, tapi saya yakin mimpi-mimpi itu akan terwujud karena Tuhan yang Maha Melihat akan senantiasa mengabulkan doa hamba-Nya yang berusaha.
Langganan:
Postingan (Atom)