Welcome.

Welcome.

Sabtu, 04 September 2010

Embarrassing Moment

EMBARRASSING MOMENT

Pernahkah membayangkan bagaimana rasanya mempermalukan diri sendiri? Ya, itulah yang saya rasakan ketika harus membeli kondom untuk tugas mata kuliah Psikologi Perilaku Seksual, malu sekali. Saya membeli kondom tersebut tepatnya pada hari Sabtu, 3 September 2010, pukul 13.12 WIB, di Indomaret Margonda Residence, Depok. Saya memasuki toko bersama dua orang teman saya yang semuanya adalah perempuan. Perasaan saya bercampur aduk ketika saya memasuki ruangan toko tersebut; malu, ragu-ragu, takut, geli, dan rasa ingin nekad. Ya, nekad, karena bagaimana pun juga saya harus tetap membeli kondom itu.
Ketika saya masuk, keadaan toko sedang sepi, yang ada hanya petugas kasir saja. Namun, betapa tidak beruntungnya saya karena kasir yang sedang bertugas saat itu adalah laki-laki karena bagaimana pun juga saya masih merasa canggung apabila ada lawan jenis yang melihat saya melakukan hal-hal yang sangat pribadi dan sensitif. Membeli alat kontrasepsi adalah salah satu hal yang menurut saya tergolong sangat pribadi dan sedikit sensitif.
Dengan nekad, saya langsung menuju rak obat dimana kondom itu diletakkan. Karena merasa canggung, saya pun mengambil pasta gigi untuk menutupi kondom yang saya ambil tadi. Sesegera mungkin saya menuju kasir. Awalnya, petugas kasir tersebut tampak biasa-biasa saja. Namun setelah mengecek harga kondom yang saya beli, petugas kasir itu pun lantas tersenyum sambil merunduk, serta sesekali mencuri pandang ke arah saya. Malu tidak terhingga rasanya karena saya membeli kondom di siang bolong pada bulan Ramadhan. Dan kebetulan saya memakai jilbab. Mungkin terlihat sangat aneh jika ada seorang perempuan muda berjilbab yang membeli kondom di siang bulan puasa. Lengkap sudah rasa malu saya hari itu.
Suasana toko masih sepi sampai saya meninggalkan toko sehingga tidak ada orang lain yang dapat saya amati bagaimana reaksi mereka ketika melihat saya membeli kondom.
Selama perjalanan pulang menuju rumah kontrakan saya yang kira-kira terletak satu kilometer dari lokasi toko, saya menebak-nebak dalam hati tentang apa yang ada dalam pikiran petugas kasir tadi ketika saya membeli kondom. Mungkin saja petugas kasir itu bertanya-tanya untuk apa saya membeli kondom. Atau jika boleh berpikiran buruk, maka saya bisa menebak mungkin ia berpikir betapa tidak modalnya pasangan saya karena saya lah yang harus membeli alat kontrasepsi.
Bagaimana pun perasaan saya waktu itu, yang jelas rasa malu saya terbayar dengan pengalaman dan pemahaman bahwa ternyata di Indonesia, membicarakan seputar masalah seksual serta alat kontrasepsi masih dianggap tabu oleh masyarakat. Apalagi jika harus membeli langsung kondom di tempat umum, rasa canggung antara pembeli dan penjual masih sangat kental. Anggapan tabu itulah yang saat ini sedang didobrak oleh para ahli psikologi seksual dan ahli seksologi lainnya agar pendidikan mengenai seks dapat tersalurkan kepada seluruh masyarakat tanpa ada respon negatif. Pendidikan seks ini tentu saja ditujukan untuk mengurangi angka aborsi, kehamilan yang tidak dikehendaki, penyakit menular seksual, dan perilaku yang tidak dikehendaki.

1 komentar:

  1. hahaha........
    trus mas e gak ngomong opo2 ma??
    aku bayangno mas e iku mesti ngguyune ogak penak..

    BalasHapus